Adab masuk masjid

Kita semua telah mengenal Masjid sebagai tempat ibadah umat Islam. Masjid dapat kita jumpai baik di desa maupun di kota dimana di situ umat Islam berdomisili. Kita juga dapat melihatnya di Amerika, Eropa, China bahkan Rusia sekalipun. Masjid berperan besar dalam pembentukan peradaban umat Islam dari dulu hingga sekarang.

Banyak Masjid telah didirikan oleh umat Islam sebagai upaya memahami petunjuk Rasulullah s.a.w.: “Barangsiapa mendirikan karena Allah suatu Masjid, niscaya Allah mendirikan untuknya seperti yang ia telah dirikan itu di Syurga”. (HR: Bukhori dan Muslim).

Fungsi Masjid paling utama adalah sebagai tempat ibadah sholat. Kalau kita perhatikan, sholat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok. Sunnah Nabi dalam pengertian muhaditsin, yang bermakna perbuatan yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah s.a.w. tentang sholat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar sangat ditekankan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari, Rasulullah s.a.w. pernah mengancam orang-orang yang tidak mau berangkat shalat berjama’ah dengan membakar rumah mereka. (hal. 18). Bahkan, orang buta yang dapat mendengar adzan juga diperintahkan untuk tetap datang ke Masjid, untuk menunaikan shalat berjama’ah. (hal. 24). Beliau juga menggembirakan orang-orang yang melaksanakan shalat berjama’ah di masjid dengan pahala lipat dua puluh lima kali (dua puluh tujuh kali), ditinggikan derajadnya, diampuni dosanya dan didoakan para malaikat. (hal. 21.).

Dalam mukaddimah buku ini, Abdullah bin Shalih Al Fauzan menjelaskan, bahwa shalat berjama’ah di Masjid merupakan keharusan agama dan ajaran Islam. Dalam berjama’ah terkumpul banyak kemuliaan, seperti: kemuliaan bermunajat kepada Allah SWT, kemuliaan beribadah dan kemuliaan tempat. Seseorang yang menghadiri shalat berjama’ah di Masjid akan memproleh pahala yang agung.

Menurut beliau: “Apabila menghadiri Masjid saja mendapatkan kedudukan seperti ini, berarti wajib bagi yang hendak pergi ke tempat itu, dalam rangka melaksanakan ibadah yang agung agar menghias dirinya dengan sifat-sifat yang mulia dan akhlak yang baik. Juga agar belajar dan mengamalkan hukum-hukum tentang menghadiri Masjid yang telah diterangkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasullullah s.a.w. Sebagai bukti adab kita kepada Allah SWT, hormat kita dengan tempat itu dan perhatian kita dengan sesama muslim yang shalat berjama’ah serta sebagai praktek nyata kita terhadap Sunnah Rasulullah s.a.w. “.

Beliau menulis buku ini dikarenakan kepriharinannya terhadap kekeliruan umat dalam menerapkan adab memasuki Masjid. Adanya kesalahan dan pelanggaran, menurut beliau dikarenakan adanya kelemahan iman yang berdampak terhadap kurangnya pemahaman Islam dan terjadinya pola perilaku ibadah yang berubah menjadi adat dan kebiasaan bagi kebanyakan orang. Selain itu, beliau juga terinspirasi oleh adanya dorongan untuk menghidupkan Sunnah Rasulullah s.a.w., mengingatkan sesama muslim dan meneladani orang-orang shalih terdahulu.

Pembahasan buku ini dikelompokkan dalam sebuah pendahuluan dan empat buah pasal. Dalam pendahuluan, beliu mengupas tentang kewajiban shalat berjama’ah dan ancaman bagi yang tidak mengindahkannya. Bagian ini sengaja dibahas untuk meningkatkan kesadaran umat akan pentingnya shalat berjama’ah di Masjid. Di antara pemahaman beliau yang perlu dicatat adalah bahwa melaksanakan shalat fardlu dengan berjama’ah di Masjid hukumnya wajib bagi laki-laki yang tidak ada udzur, dan shalat berjama’ah tersebut dilakukan di Masjid bukan di rumah atau tempat lainnya. (hal. 15 dan 25).

Dalam pasal pertama, dibicarakan tentang adab atau tata cara berangkat ke Masjid. Terdiri dari enam hukum, yang berkaitan dengan penampilan, perhiasan, kerapian, wewangian, siwak, bersegera ke Masjid, berdoa, ketenangan, kesopanan, berjalan kaki dan menjelentikkan jari-jemari. Seseorang yang berangkat ke Masjid hendaklah berpakaian yang rapi, menjaga kebersihan, berdoa dan berjalan penuh dengan ketenangan.

Pasal kedua, membicarakan mengenai perlunya menggunakan alas kaki yang bersih, masuk dengan mendahulukan kaki kanan, berdoa ketika masuk Masjid, mengisi shaf yang terdepan, mengucapkan salam, mengerjakan shalat tahiyyatul Masjid, menghadap sutrah, menunggu shalat, tidak keluar Masjid setelah adzan, meluruskan dan merapatkan shaf shalat, serta bersegera mengikuti shalat imam. Juga dibahas mengenai shalat orang yang masbuq, perbedaan niat imam dan makmum, menyelenggarakan jama’ah kedua, musafir yang menjadi makmum, tidak membuat batasan dalam Masjid, mengutamakan Masjid terdekat dan tidak mengganggu orang shalat.

Pasal selanjutnya dibicarakan mengenai hukum menghadiri Masjid pada hari Jum’at. Hampir sama dengan adab-adab menghadiri Masjid pada umumnya. Namun, ada beberapa hal yang beliau tambahkan di antaranya mengenai keutamaan hari Jum’at, membaca Al Quraan, mendengarkan khutbah dengan khusyu’ dan shalat sunnah setelah Jum’at. Juga ada salah satu pendapat beliau yang cukup mengundang perdebatan, yaitu tidak perlunya mengangkat kedua tangan ketika berdoa di dalam khutbah baik bagi Khatib maumun jama’ahnya, karena tidak disyariatkan. (hal. 194).

Pasal terakhir membicarakan tentang hukum perempuan datang ke Masjid. Pada prinsipnya dibolehkan, hanya saja menurut pendapat sebagian ulama memiliki beberapa persyaratan, di antaranya: tidak menggunakan minyak wangi secara berlebihan, menundukkan pandangan, mengenakan hijab syar’i, tidak bercampur dengan para lelaki, tidak mengeraskan suaranya dalam shalat dan keluar Masjid lebih dahulu sebelum laki-laki.

Buku yang berbicara tentang tata cara atau adab memasuki Masjid ini sangat berguna sekali bagi kaum muslimin yang memiliki ghirah memakmurkan Masjid dengan shalat berjama’ah. Sebenarnya, inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan sholat berjama’ah, yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar, sementara yang lain adalah pengembangannya. Shalat berjama’ah merupakan indikator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid.

Secara umum, karya Abdullah bin Shalih Al Fauzan ini cukup enak untuk dibaca dan memiliki kandungan isi yang mencerahkan. Buku ini sangat layak untuk kita baca dan diambil manfaatnya, terutama bagi para remaja, orang tua, mubaligh, da’i dan pengurus Masjid. apalagi dilengkapi dengan catatan kaki yang baik sekali terutama berkaitan dengan sumber-sumber penukilan hadits dan pendapat para ulama. Selain itu, pada bagian akhir tulisan ini juga terdapat referensi kitab yang menjadi rujukan penulisnya, sehingga memudahkan untuk ditelusuri.

Mudah-mudahan dengan membaca buku ini, ghirah kita untuk memakmurkan Masjid tumbuh dan semakin berkembang. Meskipun belum bisa melaksanakan keseluruhan adab-adab masuk Masjid yang diajarkannya, setidaknya kita dapat belajar untuk mengamalkannya secara bertahap.

Wallahu a’lam bishshawab.

Pos ini dipublikasikan di Religy. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s